Orbituary & Kenangan bersama PENANAM POHON JATI di PGN : Bpk. Abdul Qoyum Tjandranegara

Hadirnya pak Qoyum untuk memimpin PGN (1992-2001) membawa atmosfer yg sangat berbeda. Natural transformation terjadi pada bisnis PGN. Dari semula hanya Distrubusi Gas Bumi menjadi Transmisi & Distribusi Gas Bumi. Sosok yg tegas, cerdas, antusias, inovatif, berkomitmen tinggi sekaligus humble.Iitu yg selalu melekat dalam ingatan saya. Adalah beliau yg menggagas pembangunan pipa transmisi dari blok Asamera (Sumsel) ke Duri (Sulteng), dimana gas bumi assosiated dg minyak di Asamera (sekarang milik ConocoPhilips) dan Sante Fe (sekarang CNOOC) yg semula terbuang, dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk mengangkat minyak di Duri (milik Cefron). Pemanfaatan sumber daya terbuang menjadi bahan bakar yang bermanfaat. Waktu itu sy masih betugas di Pembukuan Sentral, di gedung A PGN lantai 2. Saya diminta menghitung keekonomiannya. Ini tugas yang terbawa terus seumur tugas saya di PGN sejak pertama OJT di Surabaya menghitung keekonmian pelanggan PT Iglas kemudian ke Sub Dit Pemasaran kantor pusat. Beliau mendatangkan ahli dari Migas, yaitu pak Kardaya, mulailah kami berdua menghitung berhari dan mungkin berbulan . Sesekali kami berdua lembur di lantai 2 tersebut dan malam2 pak Qoyum naik ke atas.. Saya ingat sekali pak Qoyum membeli laptop baru supaya pak Kardaya bisa cepat dan akurat dalam menghitungnya. Laptop jaman itu masih baru langka, jarang orang memilikinya. Ini bukti bahwa pak Qoyum sangat committed mendukung tim-nya. Setelah perhitungan selesai, saya diminta mendampingi beliau dan pak Irwan Tascha (atasan saya di Sub Dit Keuangan), road show keliling Jakarta mencari pendanaan. Kami diminta naik mobil beliau. Saya lalu masuk kursi depan. Beliau komentar :”kamu kok duduk di depan? Kayak ajudan saja….”. Saya diam. Beliau nggak sadar kalau saya menghormati pak Irwan atasan saya yg memang seharusnya duduk di belakang bersama beliau. Pak Irwan masuk mobil terakhir, dan saat itulah mungkin pak Qoyum menyadarinya. One on one meeting pertama dengan Bank Danamon, waktu itu bertemu dg Direksinya, yaitu pak Krisna Wijaya (sekarang Komut PT PPA). One on one meeting berikutnya dengan Dirut Mandiri, pak Nelu di kantor Mandiri di Jl Gatot Subroto. Di perjalanan kembali ke kantor beliau menyebut satu nama perusahaan lagi, yaitu Cadbury, namun itu tidak terjadi karena akhirnya mega projek PGN pertama ini dibiayai Multilateral Bank, yaitu ADB, EIB dan JEXIM (sekarang JBIC). Saya ingat sekali waktu beberapa tahun kemudian pak Krisna Wijaya datang ke ruangan saya, saat itu beliau sudah pindah tugas ke Barclays Investment Bank, beliau berkata: “bu, waktu pak Qoyum presentasi tentang proyek pipa transmisi Trans Sumatera waktu itu, saya nggak percaya lho, mana mungkin ini pipa bisa dibangun PGN, eh… ternyata terbukti, luar biasa…”. Sejak terbangunnya pipa transmisi tersebut mulailah berdatangan para banker ke PGN. Sebelumnya sungguh tidak terpikirkan hal tersebut akan terjadi. Adalah pak WMP Simanjuntak sbg Direktur Keuangan, pak Rohali Sani sebagai Direktur Pengembangan, pak Adil Abas sebagai Korpel Proyek, pak Nur Subayo sebagai Direktur Pengusahaan dan pak Suparjono Karimun sebagai Direktur Unum, merupakan tim yg sangat kompak di bawah pimpinan pak Qoyum. Pipa Grissik - Duri tsb kemudian dikembangkan ke Singapore, lagi2 proyek ini seperti tidak dipercaya akan terwujud, dan terbukti ternyata selesai juga. Keseluruhan proyek berhemat US$100 juta dari anggaran. Pak Qoyum bilang:” Aku digoblok-goblokin sama teman2 (menyebut nama suatu BUMN), kok anggaran sampai bersisa segitu banyak”. Saya merasa besalah (tapi in syaa Allah tidak berdosa), karena saya memang pelit dalam masalah anggaran, demi efisiensi perusahaan. Belakangan saya mendapat penghargaan dari Presiden SBY: Satya Lencana Wira Karya untuk Prestasi Pengendalian Biaya Investasi Pembangunan Pipa Gas Transmisi dari Sumatera ke Singapura, tanpa saya duga. Saya lalu berpikir, jangan-jangan penghargaan ini atas inisiatif beliau. Tahun 2001 pak Qoyum meninggalkan PGN dg warisan Tanaman Pohon Jati begitu kalimat kiasan yang sering disebut teman-teman, karena beliau sendiri ibarat penanam pohon Jati tidak ikut menikmati hasilnya, tetapi kami-kamilah yang ditinggalkan yang memanennya. Allah SWT yang mengatur semuanya. Pipa transmisi selesai, pipa distribusi berjalan lancar, IPO dilakukan 2003 dg sukses, subsidi minyak dicabut tahun 2005, sehingga semua industri mencari bahan bakar gas yang waktu itu masih murah. Dan puncak keemasan terjadi di tahun 2012, dimana laba bersih PGN mencapai hampir US$ 1 milyar Untuk mendukung pengembangan PGN lebih lanjut, kemudian pak Siman, Dirut pengganti pak Qoyum melakukan IPO (15 Desember 2003). Road show tidak hanya dilakukan di Jakarta tapi keliling dunia untuk menarik investor asing. Direktur Keuangannya saat itu pak Djoko Pramono, dan pak Adil menuadi Direktur Pengembangan menggantikan pak Rohali Sani. Saya dan pak Uji Subroto diminta pak Djoko untuk ikut road show, sangat kaget karena nggak nyangka dipercaya untuk ikut presentasi di ajang internasional. Saya agak kurang percaya dan konfirmasi:”Saya pak?”. Jawab pak Djoko:”lha sopo maneh?”. Saya dan pak Uji lalu diberi training kilat sama Konsultan dalam perjalanan road show tersebut. Saat pipa transmisi selesai dibangun sampai Singapore (2003), dan diresmikan oleh pemimpin kedua negara : ibu Megawati dan Goh Tok Tjong, pada waktu bersamaan saya dijadwalkan road show bertiga bersama pak Djoko dan Mochtar ke Singapore. Karena pak Djoko harus menghadiri peresmian tersebut di Batam, tinggal kami berdua. Terus terang saya agak nervous ditinggal pak Djoko waktu itu. Saya ingat Mochtar memberi semangat saya sambil melingkarkan tangan ke punggung saya dengan sopan : “ Tenang bu, kita jalani bersama, in syaa Allah lancar”. Berjalanlah kami berdua dari gedung ke gedung. Mereka tidak melihat sosok kami berdua yg tergolong mungil-mungil dibanding konsultan bule yg mendampingi kami, tapi mereka melihat sosok PGN yg telah berhasil membangun pipa transmisi menyambung Indonesia - Singapore, dan siap menerangi negara tsb dengan listrik berbahan baku gas. Saat itu Singapore kesulitan mendapatkan bahan bakar yang murah. Sehingga proyek ini dianggap solusi yang sangat penting. Ada beberapa kenangan yang tak terlupakan bersama beliau. ~ Meski pak Qoyum merupakan pemimpin yang dikenal dan disegani di tingkat nasional, beliau adalah sosok yg humble. Bila ada rapat beliau akan senang mendatangi ruangan Sub Dit (sekarang Divisi) terkait. Saya ingat waktu itu harus membahas masalah gaji, beliau datangi Sub Dit SDM. Beliau berbisik kepada saya :”Maya, sistem gaji di PGN itu bagaimana?”. Saya jawab :”PGPS, pak”. Beliau Tanya lagi:”apa itu PGPS?”. Saya jawab :”Pinter Goblok Pendapatan Sama, pak..”. Beliau tertawa… ~ Suatu saat ketika harus membuat asumsi perhitungan keekonomian, saya sampaikan asumsi penjualan untuk 20 tahun ke depan. Beliau bertanya:”Ini data dari mana?”. Saya bilang saya ngarang, beliau tanya:”Lho?, kok ngarang?”. Saya jawab:”Lha cari data kemana pak? Nanti proyek bpk nggak kelar-kelar…”. Saya selalu berpikir yang penting ada dulu biar cepet, nanti paralel bisa dikoreksi. Karena waktu itu belum ada google, internet juga masih sulit, sumber data tentang migas juga belum tersedia seperti sekarang. ~ Yg paling mengagumkan saat berdebat tentang perhitungan discount factor. Karena saya berlatar belakang ekonomi dan beliau tehnik, sy merasa PD soal perhitungan time value of money, ternyata beliau menguraikan di papan tulis rumus matematikanya di balik discount factor tersebut. Saya jadi KO. Belakangan saya baru tahu selain kuliah di ITB beliau juga kuliah di UI ambil Ekonomi. ~ Beliau tergolong pemimpin yang emosional, kalau nggak berkenan pasti marah. Anehnya saya dan hampir semua orang tidak pernah sakit hati kepada beliau. Barangkali karena kami tahu visi mulia dibalik sikapnya. Masa-masa negosiasi Agreement dengan Gulf Resources pemilik blok Asamera (sekarang ConocoPhilips), adalah masa yg agak sulit (1997 - 1998) karena mereka tough sekali, didukung lawyer-lawyer internasional. Itu mungkin merupakan negosiasi pertama PGN dengan partner bisnis Internasisional. Saya dipanggil ke ruangannya, ada beberapa klausul yang membuat beliau marah. Buku-buku di ruangan beliau dibanting ke lantai. Saya harus mengambil data ke gedung C, nggak sadar saya lari kencang dan sedikit mencincing rok panjang saya. Itu terjadi sekitar thn 1998, karena saya menggunakan rok panjang (berhijab) tahun 1998 sepulang dari Osaka Gas. Ada teman2 di gedung Direksi Kit (sekarang Graha PGAS) melihat dan bertanya :”kenapa itu bu maya lari kencang sambil mencincing rok?…”. Saya tunggu terus saat pak Qoyum marah. Karena terbiasa, lama kelamaan saya bisa santai menghadapinya. Begitu beliau mulai makan seuatu di mejanya, nah, itu pertanda marahnya sudah reda, saat itulah sy tahu sy bisa lanjut bicara. ~ Suatu saat ada Seminar Indo Pipeline dan PGN menjadi host-nya. Tiba2 saya diminta pak Jobi menjadi pembicara, menggantikan pak Dwika yg mendadak harus rapat dengan SP ke Bandung. Salah satu pembicara lainnya adalah pak Qoyum dari BP Migas dan satunya lagi Dirut Pertagas. Alhamdulilah saya besyukur karena sy berkesempatan mengucapkan terimakasih kpd pak Qoyum atas nama PGN di depan forunm Internasional (berbahasa Inggris), bahwa beliau adalah orang yg paling berjasa di PGN karena telah berhasil membangun pipa transmisi yg mengubungkan antar pulau dan antar negara.